Rabu, 31 Desember 2014

Sejarah Waktu, Tahun, Penanggalan

I am thinking, therefore I exist (Corgito Ergo sum)”, Rene Descartes. Seingat saya, saya benar-benar tidak ingat kapan, dimana atau bagaimana saya lahir ke di dunia ini, dan tidak pasti sedang memikirkan apa pada saat lahir. Walaupun menurut Rene Descartes saya belumlah resmi exist/ada pada saat saya dilahirkan, setidaknya saya patut bersyukur hari ini saya bisa menuliskan tanggal, hari dan tahun kelahiran saya dengan akurat dalam riwayat hidup tanpa bersedih. Tidak seperti zaman kakek moyang yang harus prihatin karena mesti menandai waktu kelahiran dengan peristiwa gunung meletus, musim paceklik, atau musim kemarau panjang.
Setiap peradaban memiliki sejarah, setiap peradaban memiliki penanda waktu sejarahnya dan untuk menandai catatan sejarahnya setiap peradaban memiliki kalender, sistem perhitungan waktu. Jika anda memeriksa jumlah sistem kalender, maka di dunia tidak kurang dari 25 sistem penanggalan yang masih ada. Setidaknya yang paling populer di dunia ada 3, yang paling umum yaitu penanggalan masehi yang menggunakan putaran matahari sebagai pedoman (solar calendar), lalu ada penanggalan Hijriah yang menggunakan putaran bulan sebagai acuan (lunar calendar) dan serta penanggalan China yang menggunakan kombinasi putaran bulan dan matahari (lunisolar calendar) -anda yang orang Jawa tulen boleh menambahkan kalender Jawi.
Tapi tahukah anda perhitungan hari, bulan dan tahun yang saat ini umum kita kenal memiliki sejarah yang rumit dan panjang. Malam ini, tepat di momentum pergantian tahun saya tergelitik untuk sedikit menuliskan informasi tentang sistem kalender, sedikit mencerahkan beberapa pandangan tentang sistem penanggalan yang kita kenal dari sisi sejarah.
Kepentingan manusia dengan sistem kalender dimulai sejak manusia ada di dunia, usianya tentu saja setua adanya manusia. Manusia makhluk pembelajar yang sangat hebat sedangkan hewan lebih peka terhadap perubahan waktu, manusia menyadari waktu migrasi hewan selalu berbarengan dengan perubahan bulan, perubahan letak matahari serta kemunculan bintang-bintang tertentu. Di masa lalu orang menandai waktu yang tepat untuk berburu atau memanen ikan di laut. Pada era peradaban bercocok tanam, kemampuan membaca benda angkasa untuk menandai waktu ini berguna untuk menandai waktu tanam atau panen terbaik sebelum cuaca dan kondisi alam berubah tidak menguntungkan. Bahkan bangsa nelayan dan pelaut lebih jauh lagi menyadari bahwa letak bintang-bintang tersebut bisa menjadi pedoman arah perjalanan.
Jika sistem penanggalan sudah sedemikian tua, kenapa sistem kalender masehi baru berkisar di angka 2000-an, sistem kalender hijriah di angka 1400-an atau sistem kalender china di angka 4000-an? Pertanyaan itulah yang akan coba kita telusuri melalui tulisan ini.
a. Penanggalan Masehi/Gregorian Calendar.
Sistem kalender masehi yang sekarang digunakan secara internasional, di masa awalnya merupakan penanggalan Romawi kuno yang lunaris, menggunakan pedoman bulan tetapi dengan jumah 30 hari dan 31 hari dalam satu bulan. Mereka menetapkan perhitungan awal tahun berdasarkan kemunculan matahari. Sialnya buat kita, orang Romawi kuno sangat sederhana, mereka biasa berhitung hanya sejumlah jarinya, demikian juga untuk perhitungan jumlah bulan dalam 1 tahun hanya memiliki 10 bulan. Mereka tidak menghitung bulan di musim dingin karena tidak ada matahari dan terhentinya seluruh kegiatan hidup normal.
Sebenarnya Orang Romawi kuno menggunakan angka untuk menamai bulan; bulan pertama, bulan ke-2 sampai dengan bulan ke-10 (desember), buktinya yang bisa dilihat dari adanya beberapa bulan yang berasal dari bahasa latin yang mewakili angka tertentu, septe artinya 7, octo berarti 8, nove= 9, dan dese=10. Mereka merayakan awal tahun “lebih lambat 2 bulan”, mereka merayakan awal pergantian tahun di bulan pertama yang sekarang dikenal sebagai Bulan Maret (March).
Lalu entah sejak kapan, Orang Romawi kuno mulai mengganti beberapa nama bulan. Martius digunakan untuk nama bulan pertama, konon diambil dari nama dewa perang Mars. Barangkali karena di bulan musim semi itu biasa terjadi perang memperebutkan sumber daya alam dan masing-masing pihak menilai lawan dalam keadaan paling lemah karena baru melalui musim dingin. Nama April untuk bulan kedua tidak jelas dari mana asal penamaannya, tidak ada nama dewa atau kata apa pun yang mewakili April. Sedangkan Mei diduga berasal dari nama dewi kesuburan Maia, barangkali karena di bulan itu mereka biasa memulai bercocok tanam. Juni berasal diduga berasal dari nama dewi pelindung Juno. Ada juga teori yang menyebutkan bahwa Mei dan Juni berasal dari kata Maiores (tua) dan Iuniores (muda).
Ketika raja kedua Romawi bernama Numa Pompilius naik tahta menggantikan Romulus, ia mereformasi sistem penanggalan dengan menambahkan 2 bulan, Januari dan Februari. Mengambilnya dari nama dewa Perubahan dan Peralihan; Janus, serta menamakan bulan kedua bulan Penyucian; Februum. Numa juga mengubah sistem penanggalan, ia mengambil satu di tiap bulan berhari 30 dan menambahkan 6 hari itu ke 51 hari di musim dingin sehingga menjadi 57, 29 hari untuk bulan Januari dan 28 hari untuk Februari. Menjadikan total hari dalam 1 tahun 355 hari dari semula 304 hari dan menyisipkan satu bulan tambahan berjumlah 27 hari setelah Februari setiap beberapa tahun.
Karena dianggap terlalu rumit, Julius Caesar kemudian mereformasi penanggalan dengan berasumsi perputaran matahari 1 tahun adalah 365.25 hari, ia merubah penanggalan sehingga jumlah hari setiap bulan seperti sekarang kita kenal. Reformasi inilah yang mengubah penanggalan lunaris Romawi menjadi solaris. Reformasi berlanjut hingga Augustus naik tahta, kemudian nama bulan ke-7 yang semula Quintilis (sesuai arti namanya semula bulan ke-5) diubah menjadi Julius untuk menghormati Julius Caesar dan Sextilis (semula berarti bulan ke-6) menjadi namanya sendiri; Augustus.
Meskipun orang Yunani sudah lama mengetahui bahwa satu tahun kurang beberapa menit dari 365.25 hari, sistem kalender Julius Caesar tidak mengkompensasinya, sehingga setiap 400 tahun ada kelebihan 3 hari. Pada tahun 1582 Paus Gregory XIII mereformasi sistem penanggalan dengan hanya menghapus tahun kabisat kelipatan 100 dan tahun kelipatan 400 tetap kabisat. Ada selisih 11 hari antara Kalender Julian dengan Kalender Gregory. Kalender Gregory inilah yang hingga saat ini diberlakukan sebagai sistem penanggalan internasional. Tetapi pada saat dilakukan reformasi Kalender Gregory, tidak semua negara yang menggunakan Kalender Julian mengikuti, terutama negara kristen protestan. Beberapa negara langsung menerapkan sistem ini, ada yang mengikuti beberapa tahun, beberapa ratus tahun kemudian, bahkan ada yang hingga kini masih menggunakan sistem Kalender Julian.
b. Sistem Kalender Hijriah
Sebelum masa penyebaran Islam, orang arab telah lama mengenal sistem penanggalan. Tradisi Arab memperlihatkan bahwa orang-orang Arab mengenal perputaran waktu berdasarkan kombinasi sistem lunisolar. Mereka menandai bulan berdasarkan tradisi ritual mereka, ada bulan untuk berkurban, bulan yang diizinkan melakukan peperangan, atau bulan terlarang (haram) berperang. Bulan-bulan dilarang melakukan peperangan adalah Rajab dan tiga bulan di musim haji, DhulQaidah, Dhu al-Hijja, dan Muharram. Informasi tentang bulan haram juga ditemukan dalam literatur barat; Procopius. Ia menuliskan gambaran gencatan senjata dengan salah satu suku Arab sekitar tahun 541 Masehi.
Setelah penganut Islam menguasai tanah arab, menurut sejarah, di masa pemerintahan Khalifah ke-2 Umar bin Khattab dilakukan penyeragaman sistem kalender, saat itu masih terdapat beberapa sistem kalender lokal. Penyeragaman ini dilakukan hanya menetapkan titik awal tahun. Sistem penanggalan sendiri, termasuk perubahan dari lunasolaris menjadi murni lunaris, dilakukan sesuai petunjuk Nabi berdasarkan ayat-ayat yang turun untuk menentukan penentuan penanggalan. Bahkan penentuan awal dan akhir bulan dilakukan berdasarkan petunjuk Nabi. Dalam sistem kalender Hijriah tidak banyak perubahan-perubahan berarti, nama-nama bulan pun masih menggunakan nama bulan yang sama seperti sebelum penyebaran Islam.
Ufh,….. saya sudah terlalu capek untuk menuliskan tentang sejarah Kalender China. :) Berhubung masih momen tahun baru, apakah anda merayakannya? Berpesta dan berpawai di jalan-jalan?
Boleh atau tidaknya menyambut tahun baru rasanya kontra produktif untuk diperdebatkan di sini. Ada yang menyebutkan bahwa perayaan tahun baru adalah derivat dari persembahan kepada dewa penguasa Bulan Januari (Janus). Ini pun tidak tepat karena persembahan kepada Janus yang sebenarnya justru dilakukan oleh penganut pagan dengan bermeditasi dan berdiam rumah atau di kuil. Apalagi Bulan Januari justru jatuh tepat di puncak musim dingin, di masa lalu tidak ada orang cukup bodoh berpesta dan turun ke jalan di tengah-tengah suhu beku. Di malam pergantian tahun anda bisa ikut turun ke jalan jika suka, atau bisa juga menonton televisi dan berdiam di rumah, itu hak pribadi anda. Asal saja jangan diniatkan untuk memberi penghormatan kepada Janus.
Saya belum menemukan referensi yang pasti tentang sejak tahun baru dirayakan dengan meriah dan berpesta. Kemungkinan besar adalah di era revolusi industri di eropa, era ketika kaum pekerja meningkat pesat, mereka bekerja hampir sepanjang tahun dan menemukan libur panjang di awal tahun. Di saat itulah waktu libur panjang itu digunakan untuk bersukaria melepas kejenuhan kerja.
Ah,…. andaikan Krisdayanti tahu rumitnya sejarah penanggalan kemungkinan dia tidak akan mau menyanyikan lagu “Menghitung Hari” di malam tahun baru.
Irpanudin

Sejarah Tahun Baru

Perayaan tahun baru masehi memiliki sejarah panjang. Banyak di antara orang-orang yang ikut merayakan hari itu tidak mengetahui kapan pertama kali acara tersebut diadakan dan latar belakang mengapa hari itu dirayakan.
Kegiatan ini merupakan pesta warisan dari masa lalu yang dahulu dirayakan oleh orang-orang Romawi. Mereka (orang-orang Romawi) mendedikasikan hari yang istimewa ini untuk seorang dewa yang bernama Janus, The God of Gates, Doors, and Beeginnings.
Menurut kepercayaan bangsa Romawi Kuno, Janus adalah dewa yang memiliki dua wajah, satu wajah menatap ke depan dan satunya lagi menatap ke belakang, sebagai filosofi masa depan dan masa lalu, layaknya momen pergantian tahun. (G Capdeville “Les épithetes cultuels de Janus” in Mélanges de l’école française de Rome (Antiquité), hal. 399-400).
Fakta ini menyimpulkan bahwa perayaan tahun baru sama sekali tidak berasal dari budaya kaum Muslimin. Pesta tahun baru masehi, pertama kali dirayakan orang kafir, yang notabene masyarakat paganis Romawi.
Acara ini terus dirayakan oleh masyarakat modern dewasa ini, walaupun mereka tidak mengetahui spirit ibadah pagan adalah latar belakang diadakannya acara ini. Mereka menyemarakkan hari ini dengan berbagai permainan, menikmati indahnya langit dengan semarak cahaya kembang api, dan sebagainya.
Turut merayakan tahun baru statusnya sama dengan merayakan hari raya orang kafir. Dan ini hukumnya terlarang. Di antara alasan statemen ini adalah:
Pertama, turut merayakan tahun baru sama dengan meniru kebiasaan mereka. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kita untuk meniru kebiasaan orang-orang yang melakukan perbuatan mungkar dan buruk, termasuk perbuatan orang-orang kafir. Beliau bersabda: “Siapa yang meniru kebiasaan satu kaum maka dia termasuk bagian dari kaum tersebut,” (Hadits shahih riwayat Abu Daud)
Abdullah bin Amr bin Ash mengatakan: “Siapa yang tinggal di negeri kafir, ikut merayakan Nairuz dan Mihrajan (hari raya orang majusi), dan meniru kebiasaan mereka, sampai mati maka dia menjadi orang yang rugi pada hari kiamat.”
Kedua, mengikuti hari raya mereka termasuk bentuk loyalitas dan menampakkan rasa cinta kepada mereka. Padahal Allah melarang kita untuk menjadikan mereka sebagai kekasih dan menampakkan cinta kasih kepada mereka. Allah berfirman:
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (rahasia), karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu,” (QS Al-Mumtahanah: 1).
Ketiga, Hari Raya merupakan bagian dari keyakinan dan doktrin keyakinan, bukan semata perkara dunia dan hiburan. Ketika Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam datang di kota Madinah, penduduk kota tersebut merayakan dua hari raya, Nairuz dan Mihrajan. Beliau pernah bersabda di hadapan penduduk madinah:
Saya mendatangi kalian dan kalian memiliki dua hari raya, yang kalian jadikan sebagai waktu untuk bermain. Padahal Allah telah menggantikan dua hari raya terbaik untuk kalian; idul fitri dan idul adha,” (HR. Ahmad, Abu Daud, dan Nasa’i).
Perayaan Nairuz dan Mihrajan yang dirayakan penduduk madinah, isinya hanya bermain-main dan makan-makan. Sama sekali tidak ada unsur ritual sebagaimana yang dilakukan orang Majusi, sumber asli dua perayaan ini.
Namun mengingat dua hari raya tersebut adalah perayaan orang kafir, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarangnya. Sebagai gantinya, Allah berikan dua hari raya terbaik: Idul Fitri dan Idul Adha.
Turut bergembira dengan hari raya orang kafir, termasuk terlarang
Karena itu, turut bergembira dengan perayaan orang kafir, meskipun hanya bermain-main, tanpa mengikuti ritual keagamaannya, termasuk perbuatan yang terlarang, karena termasuk turut mensukseskan acara mereka.
Keempat, Allah berfirman, menceritakan keadaan ‘ibadur rahman (hamba Allah pilihan): “Dan orang-orang yang tidak turut dalam kegiatan az-Zuur…
Sebagian ulama menafsirkan kata ‘az-Zuur’ pada ayat di atas dengan hari raya orang kafir. Artinya berlaku sebaliknya, jika ada orang yang turut melibatkan dirinya dalam hari raya orang kafir, berarti dia bukan orang baik.Desastian/dbs
Ihwan Ghazali

Sejarah Sekitar Tahun Baru

Bangsa Romawi kuno memperingati tanggal 1 Januari sebagai hari penghormatan untuk dewa mereka yaitu Dewa Janus, . yang memiliki dua wajah, satu melihat ke depan dan ke belakang tampak lainnya yaitu dewa gerbang, pintu, dan awal bagi Bangsa Romawi kuno. Untuk nama bulan pertama yaitu Bulan Januari mengambil sesuai dengan dewa tersebut.
Tahun Baru pertama kali dirayakan pada tanggal 1 Januari 45 SM. Tidak lama setelah Julius Caesar dinobatkan sebagai kaisar Roma, ia memutuskan untuk mengganti penanggalan tradisional Romawi yang telah diciptakan sejak abad ketujuh SM. Dalam mendesain kalender baru ini, Julius Caesar dibantu oleh Sosigenes, seorang ahli astronomi dari Iskandariyah, yang menyarankan agar penanggalan baru itu dibuat dengan mengikuti revolusi matahari, sebagaimana yang dilakukan orang-orang Mesir.
Satu tahun dalam penanggalan baru itu dihitung sebanyak 365 seperempat hari dan Caesar menambahkan 67 hari pada tahun 45 SM sehingga tahun 46 SM dimulai pada 1 Januari. Caesar juga memerintahkan agar setiap empat tahun, satu hari ditambahkan kepada bulan Februari, yang secara teoritis bisa menghindari penyimpangan dalam kalender baru ini. Tidak lama sesudahnya Caesar terbunuh pada tahun 44 SM, terjadi perubahan nama bulan yaitu Quintilis di ganti Julius atau Juli. Kemudian, nama bulan Sextilis diganti dengan nama pengganti Julius Caesar, Kaisar Augustus, menjadi bulan Agustus.
pada 24 Februari 1582 Paus Gregorius XIII, dengan dekrit yang ditandatangani, mengeluarkan keputusan banteng kepausan, yang dikenal dengan kata-kata pembukaannya, gravissimas Internasional Kalender Gregorian, juga disebut kalender Barat dan kalender Kristen. Secara internasional kalender sipil yang paling banyak diterima di seluruh dunia sampai saat ini.
Motivasi untuk melakukan reformasi Gregorian adalah Satu tahun dalam Kalender Julius berlangsung selama 365 hari 6 jam. Tetapi karena revolusi Bumi hanya berlangsung selama 365 hari 5 jam 48 menit 46 detik, maka setiap 1 milenium, Kalender Julius kelebihan 7 sampai 8 hari (11 menit 14 detik per tahun). Masalah ini dipecahkan dengan hari-hari kabisat yang agak berbeda pada kalender baru ini. Pada kalender Julius, setiap tahun yang bisa dibagi dengan 4 merupakan tahun kabisat. Tetapi pada kalender baru ini, tahun yang bisa dibagi dengan 100 hanya dianggap sebagai tahun kabisat jika tahun ini juga bisa dibagi dengan 400. Misalkan tahun 1700, 1800, dan 1900 bukan tahun kabisat. Tetapi tahun 1600 dan 2000 merupakan tahun kabisat.
Reformasi Gregorian berisi dua bagian: reformasi kalender Julian yang digunakan sebelum waktu Paus Gregory dan reformasi siklus bulan yang digunakan oleh Gereja, dengan kalender Julian, untuk menghitung tanggal Paskah.

Reformasi ini adalah modifikasi dari catatan yang dibuat oleh Calabria dokter Aloysius Lilius. Usulan Lilius ini termasuk mengurangi jumlah tahun kabisat dalam empat abad 100-97, dengan membuat 3 dari 4 tahun penanggalan umum bukan tahun kabisat: ini bagian dari catatan yang telah diusulkan sebelumnya oleh, antara lain, Pietro Pitati. Lilius juga menghasilkan skema asli dan praktis untuk menyesuaikan posisi bulan saat menghitung tanggal Paskah tahunan, memecahkan hambatan lama untuk kalender Julian.
Karena Protestan dan Kristen Ortodoks Timur tidak mengakui otoritas Paus, banyak negara Eropa awalnya tidak mengikuti reformasi Gregorian, dan dipelihara gaya lama sistem mereka. Akhirnya negara lain mengikuti reformasi demi konsistensi, tetapi pada saat penganut terakhir dari kalender Julian di Eropa Timur (Rusia dan Yunani) berubah ke sistem Gregorian pada abad ke-20, mereka harus kehilangan 13 hari dari kalender mereka , karena perbedaan tambahan antara kedua kalender akumulasi setelah 1582. Tahun 1704 negara Swedia yang terakhir mengadopsi kalender Gregorian dan pada tahun 1917 Uni soviet mengikutinya.
Domini Anno (Latin untuk pada tahun tersebut / Tuhan kita“) sistem penomoran tahun, di mana aturan lompatan tahun ditulis, dan yang umumnya digunakan bersama-sama dengan kalender Gregorian, juga dikenal dalam bahasa Inggris sebagaicommon era” (era umum) . Tahun sebelum awal era yang dikenal dalam bahasa Inggris sebagai Sebelum Kristus, atau Sebelum Masehi
Tentu saja, karena gravissimas Internasional ditulis dalam bahasa Latin, tidak ada mandat nomenklatur bahasa Inggris. Dua nama era terjadi dalam banteng, anno Incarnationis Dominicae(”pada tahun penjelmaan Tuhan“) pada tahun dekrit ditanda tangani, dan anno Domini nostri à Nativitate Jesu Christi(”pada tahun dari Kelahiran Tuhan kita Yesus Kristus ) untuk tahun itu dicetak. Namun demikian, anno Domini” dan infleksi nya anni Dominidan annus Dominidigunakan berkali-kali dalam Les canons of Les textes fondateurs du calendrier grégorien terbitan Perancis.
Dalam penggunaan umum, 1 Januari dianggap sebagai Hari Tahun Baru dan dirayakan seperti, dalam catan samuel pepys dari abad ke-12 sampai pada 1751 tahun hukum di Inggris dimulai pada tanggal 25 Maret (Lady Day). Kemudian dalam catatan The perpetual Calender Misalnya, catatan parlemen daftar eksekusi Charles I pada tanggal 30 Januari sebagai terjadi pada 1648 (sebagai tahun tidak berakhir sampai 24 Maret), meskipun sejarah modern yang menyesuaikan awal tahun sampai 1 Januari dan merekam eksekusi sebagaimana yang terjadi pada 1649 .
Sebagian besar negara-negara Eropa Barat mengubah awal tahun menjadi 1 Januari sebelum mereka mengadopsi kalender Gregorian. Misalnya, Skotlandia mengubah awal Tahun Baru Skotlandia 1 Januari tahun 1600 (ini berarti bahwa 1.599 adalah tahun pendek). Inggris, Irlandia, dan koloni Inggris mengubah awal tahun menjadi 1 Januari tahun 1752 jadi pada tahun 1751 adalah tahun singkat dengan hanya 282 hari. Kemudian tahun itu pada bulan September kalender Gregorian diperkenalkan di seluruh Inggris dan koloni Inggris. Kedua reformasi dilaksanakan oleh Calendar (New Style) Act 1750.
Di beberapa negara, sebuah dekrit resmi atau hukum ditentukan bahwa awal tahun ini harus 1 Januari terutama negara bekas jajahan Bangsa Eropa. Untuk negara-negara seperti kita dapat mengidentifikasi satu tahun tertentu ketika 1 Januari – 31 Desember menjadi tahun normatif yaitu satu periode. Tapi di negara-negara lain kebiasaan bervariasi, dan awal tahun ini bergerak maju-mundur sebagai budaya dan pengaruh dari negara lain mendiktekan berbagai adat istiadat mereka sesuai dengan kepentingan mereka atau melalui bagaimana mereka bisa mempertahankan tradisi dan salah satunya adalah tradisi Suro atau 1 Muharam yang masih banyak dirayakan masyarakat tradisonal dengan hening dan sepi sebagai sarana mengevaluasi diri dan lebih mendekatkan diri kepada Tuhan YME.
Agung Pribadi

Tanda Kehidupan di Danau Antartika yang Terkubur

WISSARD Dr. Mark Skidmore yang tergabung dalam proyek WISSARD membawa sampel pertama dari Danau Whillans. Danau Whillans terkubur 800 meter di bawah lapisan es di Antartika Barat. Namun di luar dugaan, danau itu masih menyimpan tanda kehidupan.

Hasil penelitian dalam proyek Whillans Ice Stream Subglacial Access Research Drilling (WISSARD) menemukan bahwa danau tersebut mempunyai sel kecil yang merespon pada cat warna asam deoksiribosa (DNA).

Temuan tersebut dapat menjadi sinyal bagus keberadaan kehidupan di Antartika. Riset lebih lanjt akan mengungkap apakah sel yang ditemukan memang hidup.

Adanya sel kecil tersebut diketahui setelah peneliti menganalisis sampel lumpur dan air yang berhasil diambil pada Senin (28/1/2013). Sampel nantinya akan dikirim ke laboratorium di Amerika Serikat.

Dalam situs web proyek WISSARD, seperti dikutip Our Amazing Planet, Rabu (30/1/2013), peneliti mengatakan, "upaya ini menandai keberhasilan mengambil sampel utuh dari danau subglasial di Antartika."

Misi WISSARD yang diprakarsai Amerika Serikat hanyalah salah satu misi eksplorasi Antartika. Inggris mengeksplorasi Danau Ellsworth sementara Rusia mengeksplorasi Danau Vostok.

Hingga kini, misi Inggris masih kesulitan dalam pengeboran. Sementara, misi Rusia berhasil menemukan material organik tahun 2012 lalu. Sayang, setelah diteliti, material organik itu berasal dari cairan yang digunakan untuk membantu mengebor.

Ilmuwan mengungkapkan, Danau Whillans tak begitu terisolasi dibanding Vostok dan Ellsworth. Arus dalam danau ini membawa air tawar, lumpur dan pasir ke wilayah yang dsiebut Whillans Basin. Tapi, ilmuwan berpikir bahwa danau seluas 3 kilometer persegi ini sudah tak punya kontak langsung dengan atmosfer selama ribuan tahun.

Editor :
yunan

Aceh Pungo”, Pembunuhan Khas Aceh

Img; "Aceh Pungo" cover book

Perang Belanda di Aceh yang meletus sejak tahun 1873 hingga awal abad XX belum berakhir. Berbagai upaya dilakukan untuk dapat mengakhiri perang yang telah banyak memakan korban, baik di pihak Aceh maupun di pihak Belanda sendiri. Menjelang akhir abad XIX dan pada awal abad XX, Belanda melaksanakan suatu tindakan kekerasan melalui sebuah pasukan elit yang mereka namakan het korps marechaussee (pasukan marsose).

Pasukan ini dari serdadu-serdadu pilihan yang memiliki keberanian dan semangat tempur yang tinggi, dengan tugas untuk melacak dan mengejar para pejuang Aceh melawan Belanda ke segenap pelosok daerah Aceh. Mereka akan membunuh para pejuang Aceh yang berhasil ditemukan atau setidaknya membuang ke luar daerah Aceh.

Dengan cara kekerasan ini Belanda mengharapkan rakyat atau para pejuang akan takut dan menghentikan perlawanan Belanda. Namun apa yang terjadi ? Akibat tindakan kekerasan tersebut telah menimbulkan rasa benci dan dendam yang sangat mendalam bagi para pejuang Aceh yang bersisa, lebih-lebih bagi keluarga mereka tinggalkan, ayah, anak, menantu, sanak keluarga atau kawomnya yang telah menjadi korban keganasan pihak Belanda.

Untuk membalas tindakan kekerasan yang dilakukan oleh Belanda tersebut para pejuang Aceh melakukan suatu cara yang kemudian diistilahkan oleh Belanda dengan nama Atjeh Moorden atau het is een typische Atjeh Moord, Suatu pembunuhan khas Aceh yang orang Aceh sendiri menyebutnya poh kaphe (bunuh kafir). Di sini para pejuang Aceh tidak lagi melakukan peperangan secara bersama-sama atau berkelompok, tetapi secara perseorangan. 

Dengan nekad seseorang melakukan penyerangan terhadap orang-orang Belanda apakah ia serdadu, orang dewasa, perempuan atau anak-anak sekalipun menjadi sasaran untuk dibunuh. Dan tindakan pembunuhan nekad ini dilakukan di mana saja di jalan, di pasar, di taman-taman atau pun pada tangsi-tangsi sendiri.

Pembunuhan khas Aceh ini antara tahun 1910 – 1920 telah terjadi sebanyak 79 kali dengan korban di pihak Belanda 12 orang mati dan 87 luka-luka, sedang di pihak Aceh 49 tewas. Puncak dari pembunuhan ini terjadi dalam tahun 1913, 1917, dan 1928 yaitu sampai 10 setiap tahunnya. Sedangkan di tahun 1933 dan 1937 masing-masing 6 dan 5 kali. Adapun jumlah korban dalam perang Belanda di Aceh selama sepuluh tahun pada awal abad XX (1899-1909) sebagaimana disebutkan Paul Van’t Veer dalam bukunya De Atjeh Oorlog tidak kurang dari 21.865 jiwa rakyat Aceh. 

Dengan kata lain, angka itu hampir 4 persen dari jumlah penduduk pada waktu itu. Angka ini setelah 5 tahun kemudian (1914) naik menjadi 23.198 jiwa dan diperhitungkan seluruh korban jiwa (dari pihak Aceh dan Belanda) dalam kurun waktu tersebut hampir sama dengan yang telah jatuh pada masa perang 1873 – 1899.

Hal ini belum lagi korban yang jatuh setelah tahun 1914 hingga tahun 1942. Salah seorang perwira Belanda yang menjadi korban akibat pembunuhan khas Aceh ini ialah Kapten CE Schmid, komandan Divisi 5 Korp Marsose di Lhoksukon pada tanggal 10 Juli 1933, yang dilakukan oleh Amat Lepon. Sementara pada akhir bulan Nopember 1933 dua orang anak-anak Belanda yang sedang bermain di Taman Sari Kutaradja (sekarang Banda Aceh) juga menjadi korban pembunuhan khas Aceh ini.


Pembunuhan khas Aceh adalah sikap spontanitas rakyat yang tertekan akibat tindakan kekerasan yang dilakukan pasukan Marsose Belanda. Sikap ini juga dijiwai oleh semangat ajaran perang Sabil untuk poh kaphe (membunuh kafir). Di samping itu juga adanya suatu keinginan untuk mendapatkan mati syahid. Dan untuk membalas dendam yang dalam istilah Aceh disebut tueng bila, sebuah istilah yang menggambarkan betapa membara semangat yang dimiliki oleh rakyat Aceh.

Akibat adanya pembunuhan nekad yang dilakukan rakyat Aceh tersebut menyebabkan para pejabat Belanda yang akan ditugaskan ke Aceh berpikir berkali-kali. Dan ada di antara mereka yang tidak mau mengikutsertakan keluarganya (anak-istri) bila bertugas ke Aceh. Malahan ada yang memulangkannya ke negeri Belanda. Para pejabat Belanda di Aceh selalu membayangkan dan memikirkan bahaya Atjeh Moorden tersebut.

Mereka tidak habis pikir, bagaimana hanya dengan seorang saja dan bersenjata rencong yang diselipkan dalam selimut atau bajunya para pejuang Aceh berani melakukan penyerangan terhadap orang-orang Belanda, bahkan pada tangsi-tangsi Belanda sekalipun. Oleh karena itu, ada di antara orang Belanda yang menyatakan perbuatan itu “gila” yang tidak mungkin dilakukan oleh seorang yang waras, maka timbullah istilah di kalangan orang Belanda yang menyebutnya Gekke Atjehsche (orang Aceh gila), yang kemudian populer dengan sebutan Aceh pungo (Aceh Gila).

Untuk mengkajinya pihak Belanda mengadakan suatu penelitian psikologis terhadap orang-orang Aceh. Dalam penelitian itu terlibat Dr. R.H. Kern, penasihat pemerintah untuk urusan kebumiputeraan dan Arab, Hasil penelitian ini menyebutkan bahwa perbuatan tersebut (Atjeh Moorden) termasuk gejala-gejala sakit jiwa. 

Suatu kesimpulan yang mungkin mengandung kebenaran, tetapi juga mungkin terdapat kekeliruan, mengingat ada gejala-gejala yang tidak terjangkau oleh dasar-dasar pemikiran ilmiah dalam Atjeh Moorden tersebut. Menurut R.H. Kern apa yang dilakukan rakyat Aceh itu adalah perasaan tidak puas akibat mereka telah ditindas oleh orang Belanda karena itu jiwanya akan tetap melawan Belanda.


Dengan kesimpulan bahwa banyak orang sakit jiwa di Aceh, maka pemerintah Belanda kemudian mendirikan rumah sakit jiwa di Sabang. Dr. Latumenten yang menjadi kepala Rumah Sakit Jiwa di Sabang kemudian juga melakukan studi terhadap pelaku-pelaku pembunuhan khas Aceh yang oleh pemerintah Belanda mereka itu diduga telah dihinggapi penyakit syaraf atau gila.

Namun hasil penelitian Dr. Latumenten tersebut menunjukkan bahwa semua pelaku itu adalah orang-orang normal. Dan yang mendorong mereka melakukan perbuatan nekad tersebut adalah karena sifat dendam kepada Belanda yang dimiliki yaitu tueng bila. Untuk itu seharusnya tindakan kekerasan jangan diperlakukan terhadap rakyat Aceh.

Selanjutnya, pemerintah Hindia Belanda melaksanakan kebijaksanaan baru yang dikenal dengan politik pasifikasi lanjutan gagasan yang dicetuskan oleh C. Snouck Hurgronje. Sesuatu politik yang menunjukkan sifat damai di mana Belanda memperlihatkan sikap lunak kepada rakyat Aceh, mereka tidak lagi bertindak hanya dengan mengandalkan kekerasan, tetapi dengan usaha-usaha lain yang dapat menimbulkan simpati rakyat.

Penulis: Rusdi Sufi, Sejarawan Aceh

Indonesia “Atlantis yang Hilang” Pusat Peradaban Dunia

Dalam bukunya “Atlantis The Lost Continent Finally Found”, Prof. Arysio Santos (Geolog & Fisikawan Nuklir Brazil) meyakini bahwa Atlantis yang hilang adalah Indonesia pada saat sebelum jaman es, ketika pulau-pulau di Indonesia masih bersatu dengan Asia yang merupakan asal mula pusat peradaban manusia.Dengan teori geologi yang dibuktikan dengan pengamatan satelit, suatu peradaban yang maju yang mungkin terjadi pada masa sebelum jaman es hanya bisa terjadi di daerah tropis. Sedangkan pada masa itu daerah subtropis seperti Eropa masih ditutupi es, tidak memungkinkan suatu kehidupan apalagi suatu peradaban yang maju. Dari segi logika masuk akal, tentu saja teorinya masih harus mendapatkan dukungan bukti-bukti arkeologi yang lebih nyata.

Note:
1). Atlantis sendiri adalah cerita dari Plato (427SM – 347SM) tentang keberadaan benua Atlantis yang sudah punya peradaban tinggi yang tengelam didasar laut, kemudian para pahlawan berhati luhur yang selamat menyebar membawa peradaban keseluruh dunia.
2) Benua Amerika adalah “invisible” bagi peradaban kuno yang berada di Asia maupun Eropa, sampai ditemukan oleh Christopher Columbus pada tahun 1492. Oleh karena itu Samudra Atlantik oleh peradaban kuno termasuk didalamnya Samudra Pacific. Samudra Pacific baru ada setelah ditemukan Benua Amerika.
Yang menarik buat saya didalam bukunya, Prof. Arysio Santos becerita banyak tentang sumber cerita pewayangan yaitu Ramayana, Mahabharata, dan Pustaka Raja Purwa. Tiga sumber utama cerita pewayangan di Jawa. Bahkan menterjemahkan ker ajaan Alengkadireja di Ramayana terletak di Sumatera sebelum gunung Toba meletus bukan Sri Langka yang sering disebut oleh sumber di India.
Note:
a. Pustaka Raja Purwa karangan R. Ng. Ronggowarsito (1802 – 1873) adalah serat pedalangan versi Solo, sedangkan versi Jogja adalah Serat Purwakhanda karangan Sri Sultan Hamengkubuwana V (1822 – 1855), sedangkan versi Mangkunegaran adalah Serat Pedhalangan Ringgit Purwa hasil karya KGPAA Mangkunegara VII (1916 – 1944).
b. Para dalang di Jawa lebih melihat buku Pustaka Raja Purwa, Purwakhanda, atau Pedhalangan Ringgit Purwa sebagai sumber cerita wayang, dibandingkan dengan buku Ramayana atau Mahabharata.
Hal ini yang menimbulkan suatu spekulasi bagi saya bahwa ada kemungkinan memang ada kaitannya antara Pustaka Raja Purwa dengan Ramayana dan Mahabharata. Bukan dalam pengertian saat ini yang umum berlaku, yaitu Pustaka Raja Purwa adalah cerita yang dikembangkan dari cerita Ramayana dan Mahabharata. Tapi malahan sebaliknya, sumber ceritanya telah berkembang di Jawa secara turun temurun dalam bentuk pementasan wayang kulit, kemudian dibukukan menjadi Pustaka Raja Purwa, Purwakanda dan Pedalangan Ringgit Purwa. Sama sekali proses yang berbeda dengan keberadaan Ramayana dan Mahabharata yang berasal dari India walaupun menceritakan hal yang sama.
Kalau kita mengamati cerita wayang di Pustaka Raja Purwa / Purwakanda / Pedhalangan Ringgit Purwa adalah sangat detil, jauh lebih detil dari cerita Ramayana dan Mahabharata. Kalau kita mengacu pada teori Prof. Arysio Santos bahwa pusat peradaban berasal dari Indonesia, justru orang-orang India yang berasal dari Indonesia yang selamat dari akibat tsunami dikarenakan meletusnya gunung Krakatau yang mengakhirinya jaman es, mengembangkan peradaban di India, kemudian menulis cerita pra-tsunami dalam dua episode cerita yaitu buku Ramayana dan Mahabharata, oleh karena itu lebih ringkas dibandingkan dengan sumber cerita yang sama di Jawa. Sudah barang tentu cerita ataupun legenda akan lebih detil apabila lebih dekat dengan sumbernya.
Karena pusat peradaban tengelam, yang selamat adalah mereka yang hidup di dataran tinggi yang saat ini adalah pulau-pulau di Indonesia saat ini. Sedangkan yang hidup di pulau Jawa tidak mungkin meneruskan peradaban tulis yang sudah ada dan tenggelam, jadi ceritanya dalam bentuk legenda dari mulut ke mulut dari generasi ke generasi kemudian lebih diabadikan lagi dalam bentuk pementasan wayang kulit yang akhirnya menjadi buku Pustaka Raja Purwa maupun yang lain-lainnya.
Baru belakangan sejalan dengan tumbuhnya kerajaan Hindu di Jawa, buku Ramayana dan Mahabharata datang ke Jawa bersamaan dengan pengaruh penyebaran agama Hindu dari India. Keberadaan buku Ramayana dan Mahabharata di Jawa hanya sebagai pembanding, karena cerita yang sama dan lebih lengkap sudah ada di Jawa dalam bentuk pementasan wayang kulit.
Teori Prof. Arysio Santos, bisa merupakan suatu cerita baru tentang legenda para pahlawan berbudi luhur yang bersumber dari peradaban Atlantis yang hilang, yang kemudian menyebar ke seluruh dunia. Menurut bukunya sudah ada paling tidak tiga siklus peradaban dunia yang hilang dikarenakan bencana alam yang sangat besar:
1. Bencana tsunami maha besar diakibatkan oleh meletusnya gunung Toba yang terjadi pada kurang lebih 75.000 tahun sebelum Masehi. Sehingga gunung Toba menyisakan kaldera sangat luas yang berupa danau Toba saat ini. Peradaban pra tsunami ini kemungkinan adalah yang diceritakan dalam episode Ramayana.
2. Bencana tsunami maha besar diakibatkan oleh meletusnya gunung Krakatau yang mengakhiri jaman es pada kurang lebih 11.000 tahun sebelum Masehi. Yang mengakibatkan gunung Krakatau tenggelam dan hanya kelihatan puncaknya di Selat Sunda saat ini. Peradaban pra tsunami ini kemungkinan adalah yang diceritakan dalam episode Mahabharata.
3. Bencana tsunami maha besar diakibatnya mencairnya es di puncak gunung Himalaya yang terjadi sekitar 3.000 tahun sebelum Masehi yang mejadikan peta India dan Indonesia seperti saat ini. Periode rekonstruksi peradaban yang hilang yang menjadi peradaban yang ada seperti sekarang ini.
Dulunya India dan Indonesia adalah menjadi suatu kesatuan kerajaan maha luas yang berpusat di Indonesia yang saat ini diperkirakan sebagai Atlantis yang tenggelam di Palung Sunda (Laut China Selatan dan Laut Jawa) ketika pulau-pulau di Indonesia masih bersatu dengan benua Asia.
Tentu saja teori Prof. Arysio Santos, bisa jadi akan menjungkirbalikkan cerita asal usul manusia dan peradaban dunia. Teori ini masih harus dibuktikan dengan penemuan arkeologi yang lebih meyakinkan di Laut Jawa dan Laut China Selatan yang dulunya daratan yang menghubungkan Indonesia saat ini dengan Asia yang disebut sebagai Atlantis yang hilan
Plato said that Atlantis is a prosperous country that the sun bathed all the time. Whereas age at the time was Ice Age, where the temperature of the earth as a whole is approximately 15 degrees Celsius colder than today.Location was bathed in sunlight at the time that Indonesia is indeed located at the equator.
Plato menyebutkan bahwa Atlantis adalah negara makmur yang bermandi matahari sepanjang waktu. Padahal zaman pada waktu itu adalah Zaman Es, dimana temperatur bumi secara menyeluruh adalah kira-kira 15 derajat Celcius lebih dingin dari sekarangLokasi yang bermandi sinar matahari pada waktu itu hanyalah Indonesia yang memang terletak di katulistiwa.

Konsep Peta Benua Atlantis jaman dulu

Cover Buku “Atlantis The Lost Continents Finally Found” karya Prof. Arysio Santos
“Atlantis The Lost Continents Finally Found” Group Facebook

Islam and Science : The Road To Renewal

Islam and Science : The Road To Renewal
After centuries of stagnation science is making a comeback in the Islamic world

The Economist
Islam dan Ilmu Pengetahuan: The Road To Renewal
Setelah stagnasi berabad-abad, ilmu kembali membuat cerdas di dunia Islam
Setelah tertidur lama dan mendalam. Pada tahun 2005 Harvard University menghasilkan karya yang lebih ilmiah dari 17 negara-negara berbahasa Arab bila digabungkan. Di dunia 1,6 miliar Muslim telah hanya menghasilkan dua peraih Nobel di bidang kimia dan fisika. Keduanya pindah ke Barat: satu-satunya yang hidup, ahli kimia Ahmed Hassan Zewail, adalah di Institut Teknologi California. Dengan Yahudi Sebaliknya, kalah jumlah 100 sampai satu oleh umat Islam, telah memenangkan 79. 57 negara dalam Organisasi Konferensi Islam menghabiskan% 0,81 lemah dari PDB pada penelitian dan pengembangan, sekitar sepertiga dari rata-rata dunia. Amerika, yang memiliki anggaran ilmu pengetahuan terbesar di dunia, menghabiskan 2,9%, Israel melimpahi 4,4%.
Banyak yang menyalahkan Umat Islam untuk permusuhan bawaan untuk ilmu pengetahuan. Beberapa universitas Islam tampak lebih fokus pada aktifitas doa daripada studi. Quaid-i-Azam University di Islamabad, misalnya, memiliki tiga masjid di kampus, dengan direncanakan mesjid keempat, tapi tidak ada toko buku sama sekali. Belajar dengan menghafal daripada berpikir kritis adalah ciri khas dari pendidikan tinggi di banyak negara Muslim. Pemerintah Saudi mendukung buku-buku untuk sekolah-sekolah Islam seperti “The Miracles (Mukjizat) tak tertandingi dari Al Qur’an: Fakta Yang Tidak Dapat Ditolak oleh Ilmu pengetahuan” menunjukkan konflik inheren antara keyakinan (iman buta) dan akal.
Banyak universitas yang pemalu tentang program yang menyentuh bahkan tangensial pada politik atau melihat agama dari sudut pandang non-ritual. Pervez Hoodbhoy, seorang ilmuwan nuklir terkenal Pakistan, memperkenalkan saja pada urusan ilmu pengetahuan dan dunia, termasuk hubungan Islam dengan ilmu pengetahuan, di Universitas Ilmu Manajemen di Lahore, salah satu universitas negeri yang paling progresif. Siswa sangat antusias, tapi kontrak Mr Hoodbhoy itu tidak diperpanjang dan ia dikeluarkan pada bulan Desember, tanpa alasan yang tepat, katanya. (Universitas menegaskan bahwa keputusan itu tidak ada hubungannya dengan isi kursus.)
Tapi lihatlah dari lebih dekat dan dua hal yang jelas. Sebuah kebangkitan ilmiah Muslim sedang berlangsung. Dan akar dari keterbelakangan ilmiah tidak bersasal para pemimpin agama Islam, tetapi dari penguasa sekuler, yang sangat pelit dengan uang tunai karena mereka hidup mewah dengan mengontrol ketat pemikiran yang independen.
Pandangan panjang
Karikatur keterbelakangan endemik umat Islam mudah terhalau. Antara abad kedelapan dan ke-13, sementara Eropa tersandung melalui zaman kegelapan, ilmu pengetahuan telah berkembang di negeri-negeri Muslim. Para khalifah Abbasiyah menggelontorkan banyak uang pada kegiatan pembelajaran. Kitab “Canon of Medicine” Abad ke-11 oleh Ibnu Sina (foto, dengan peralatan modern dia akan menikmati) adalah teks medis standar di Eropa selama ratusan tahun. Pada abad kesembilan Muhammad al-Khwarizmi meletakkan prinsip-prinsip aljabar, sebuah kata yang berasal dari nama bukunya, “Kitab al-Jabr”. Al-Hasan Ibnu al-Haytham mengubah studi cahaya dan optik. Abu Raihan Al-Biruni, seorang Persia, telah menghitung keliling bumi untuk dengan tingkat kesalahan 1%. Dan para ulama telah berbuat banyak untuk melestarikan warisan intelektual Yunani kuno, yang di abad kemudian membantu percikan revolusi ilmiah Eropa.
Tidak hanya ilmu pengetahuan dan Islam yang kompatibel, tetapi agama bahkan bisa memacu inovasi ilmiah. Penghitungan Akurat awal Ramadhan (ditentukan oleh penampakan bulan baru) termotivasi ilmu astronom . Hadis (perkataan Muhammad) mendesak orang percaya untuk mencari ilmu, “bahkan samapi sejauh Cina”.
Prestasi para ulama ‘semakin dirayakan. Puluhan ribu orang berkumpul untuk “Penemuan 1001″, sebuah pameran tur tentang zaman keemasan ilmu pengetahuan Islam, di ibukota Qatar, Doha, pada musim gugur. Lebih penting lagi, Namun, penguasa menyadari nilai ekonomi penelitian ilmiah dan sudah mulai berbelanja secara Royal sesuai. Universitas Sains dan Teknologi Raja Arab Saudi Abdullah yang dibuka pada tahun 2009, memiliki hadiah anugerah $ 20.000.000.000 bahwa bahkan universitas di Amerika yang kaya akan merasa iri.
Orang Asing sudah dalam perjalanan mereka di sana. Jean Fréchet, yang mengepalai penelitian, adalah seorang ahli kimia Perancis tip untuk memenangkan hadiah Nobel. Para pendatang baru Saudi menawarkan kerjasama penelitian dengan universitas Oxford dan Cambridge, dan dengan Imperial College, London. Para penguasa tetangga Qatar yang menabrak pengeluaran penelitian dari 0,8% menjadi 2,8% dari PDB yang direncanakan: tergantung pada pertumbuhan, yang bisa mencapai $ 5 miliar per tahun. Penelitian belanja di Turki meningkat lebih dari 10% setiap tahun antara 2005 dan 2010, di mana tahun pengeluaran kas dua kali itu Norwegia.
Gelombang armada bantalan uang membawa hasil. Pada periode tahun 2000 sampai produksi 2009 karya ilmiahTurki meningkat dari hampir 5.000 hingga 22.000, dengan uang tunai kurang, Iran naik 1.300, hampir 15.000. Kuantitas memang tidak berarti kualitas, tetapi makalah-makalah menjadi lebih baik, juga. Jurnal ilmiah, dan bukan hanya beberapa yang berbasis di dunia Islam, yang mengutip makalah ini lebih sering. Sebuah studi tahun 2011 oleh Thomson Reuters, sebuah perusahaan informasi, menunjukkan bahwa pada awal 1990-an penerbit lain dikutip makalah ilmiah dari Mesir, Iran, Yordania, Arab Saudi dan Turki (negara-negara Muslim yang paling produktif) empat kali lebih sering daripada rata-rata global. Pada 2009 itu hanya setengah sesering. Dalam kategori terbaik dianggap makalah matematika, Iran saat ini berkinerja baik atas rata-rata, dengan 1,7% dari kertas yang di antara yang paling-dikutip% 1, dengan Mesir dan Arab Saudi juga melakukan dengan baik. Turki skor tinggi pada rekayasa.
Ilmu dan teknologi yang berhubungan dengan mata pelajaran, dengan manfaat yang jelas mereka praktis, melakukan yang terbaik. Teknik mendominasi, dengan ilmu pertanian tidak jauh di belakang. Kedokteran dan kimia juga populer. Nilai untuk masalah uang. Fazeel Mehmood Khan, yang baru saja kembali ke Pakistan setelah melakukan PhD di Jerman pada astrofisika dan sekarang bekerja di Pemerintah University College di Lahore, diberitahu oleh wakil kanselir-universitas untuk menghentikan mengejar ide-ide liar (lubang hitam, dalam kasusnya) dan melakukan sesuatu yang berguna.
Sains bahkan menyeberangi membagi wilayah terdalam. Pada tahun 2000 WIJEN, sebuah laboratorium fisika internasional dengan akselerator partikel pertama di Timur Tengah, didirikan di Yordania. Ini adalah model CERN, laboratorium fisika partikel-Eropa, yang diciptakan untuk mempertemukan para ilmuwan dari musuh perang. Pada boffins Israel WIJEN bekerja dengan rekan-rekan dari tempat-tempat seperti Iran dan wilayah Palestina.
Dengan buku
Ilmu jenis dipraktekkan di WIJEN muntah beberapa tantangan dengan doktrin Islam (dan dalam banyak kasus begitu muskil bahwa sensor agama akan berjuang untuk memahaminya). Tapi biologi-terutama dengan evolusi sudut-berbeda. Banyak Muslim yang terganggu oleh gagasan bahwa manusia berbagi nenek moyang yang sama dengan kera. Penelitian yang dipublikasikan pada tahun 2008 oleh Salman Hameed dari Hampshire College di Massachusetts, seorang astronom Pakistan yang sekarang mempelajari sikap umat Islam untuk ilmu pengetahuan, menemukan bahwa kurang dari 20% di Indonesia, Malaysia atau Pakistan percaya pada teori Darwin. Di Mesir itu hanya 8%.
Yasir Qadhi, seorang insinyur kimia Amerika berbalik ulama (yang telah dipelajari di kedua Amerika Serikat dan Arab Saudi), bergumul dengan masalah ini pada konferensi London pada Islam dan evolusi bulan ini. Dia tidak keberatan untuk menerapkan teori evolusi untuk lifeforms lainnya. Tapi dia bersikeras bahwa Adam dan Hawa tidak memiliki orang tua dan tidak berevolusi dari spesies lain. Setiap argumen alternatif adalah “kitab suci bisa dipertahankan,” katanya. Beberapa, terutama di diaspora, conflate evolusi manusia dengan ateisme: menolak menjadi bagian mendefinisikan menjadi seorang Muslim. (Beberapa orang Kristen mengambil pendekatan yang sama dengan Alkitab.)
Meskipun tidak percaya tersebut dapat ditulis dalam istilah agama, budaya dan politik memainkan peran yang lebih besar, kata Mr Hameed. Pendidikan sekolah miskin di banyak negara meninggalkan pikiran terbuka untuk kesalahpahaman. Sebuah gerakan yang berkembang penciptaan Islam sedang bekerja juga. Seorang pastur Turki kontroversial yang pergi dengan nama Harun Yahya adalah di garis terdepan. Situsnya spews pamflet dan buku mengutuk Darwin. Tidak seperti rekan-rekan Amerika, bagaimanapun, ia mengakui bahwa alam semesta ini miliaran tahun (tidak 6.000 tahun).
Tapi hambatan ini tidak diatasi. Banyak ahli biologi Muslim telah berhasil mendamaikan iman mereka dan pekerjaan mereka. Fatimah Jackson, seorang antropolog biologi yang masuk Islam, mengutip Theodosius Dobzhansky, salah satu pendiri genetika, mengatakan bahwa “tidak ada dalam biologi masuk akal kecuali dalam terang evolusi”. Sains menjelaskan bagaimana hal-hal berubah; Islam, dalam arti yang lebih luas, menjelaskan mengapa, katanya.
Lain mengambil garis yang sama. “Al-Quran bukan buku ilmu pengetahuan,” kata Rana Dajani, seorang ahli biologi molekuler Yordania. “Ini memberikan orang dengan pedoman tentang bagaimana mereka harus hidup mereka.” Interpretasi dari itu, ia berpendapat, bisa berkembang dengan penemuan-penemuan ilmiah baru. Ayat-ayat Alquran tentang penciptaan manusia, misalnya, sekarang dapat dibaca sebagai memberikan dukungan bagi evolusi.
Bagian lain dari ilmu kehidupan, seringkali sulit bagi orang Kristen, telah terbukti bermasalah bagi umat Islam. Dalam peneliti Amerika ingin menggunakan sel induk embrionik (yang, seperti namanya, harus diambil dari embrio manusia, biasanya suku cadang yang tersisa dari perawatan kesuburan) harus pertempuran pro-kehidupan konservatif Kristen dan larangan federal pada pendanaan untuk bidang mereka . Tetapi menurut Islam, jiwa tidak masuk janin sampai antara 40 dan 120 hari setelah pembuahan-sehingga para ilmuwan di Institut Royan di Iran mampu melakukan riset sel induk tanpa menarik kecaman.
Tapi jenis kebebasan yang menuntut ilmu masih langka di dunia Muslim. Dengan kebangkitan Islam politik, termasuk Salafi dogmatis yang mendukung versi radikal Islam, di negara-negara penting seperti Mesir, beberapa ketakutan bahwa hal itu bisa terkikis lebih lanjut masih. Lainnya, Namun, tetap berharap. Muhammad Morsi, Presiden Mesir, adalah mantan profesor teknik di Universitas Zagazig, dekat Kairo. Dia memiliki gelar PhD dalam ilmu material dari University of Southern California (disertasinya berjudul “High-Suhu Konduktivitas Listrik dan Struktur Cacat dari Donor-Didoping Al2O {-3}”). Dia telah berjanji bahwa pemerintahannya akan menghabiskan lebih pada penelitian.
Dilepaskan dari kontrol ketat dari rezim mantan, ilmuwan di negara-negara Arab melihat kesempatan untuk kemajuan. Para ilmuwan di Tunisia mengatakan mereka sudah melihat reformasi yang menjanjikan dalam cara posting universitas dipenuhi. Orang-orang terpilih, daripada ditunjuk oleh rezim. Badai politik yang mengguncang Timur Tengah bisa mempromosikan bukan hanya demokrasi, tetapi menghidupkan kembali ilmiah berpikiran bebas, juga.
Sumber: http://iranian.com/posts/view/post/6265
THE sleep has been long and deep. In 2005 Harvard University produced more scientific papers than 17 Arabic-speaking countries combined. The world’s 1.6 billion Muslims have produced only two Nobel laureates in chemistry and physics. Both moved to the West: the only living one, the chemist Ahmed Hassan Zewail, is at the California Institute of Technology. By contrast Jews, outnumbered 100 to one by Muslims, have won 79. The 57 countries in the Organisation of the Islamic Conference spend a puny 0.81% of GDP on research and development, about a third of the world average. America, which has the world’s biggest science budget, spends 2.9%; Israel lavishes 4.4%.
Many blame Islam’s supposed innate hostility to science. Some universities seem keener on prayer than study. Quaid-i-Azam University in Islamabad, for example, has three mosques on campus, with a fourth planned, but no bookshop. Rote learning rather than critical thinking is the hallmark of higher education in many countries. The Saudi government supports books for Islamic schools such as “The Unchallengeable Miracles of the Qur’an: The Facts That Can’t Be Denied By Science” suggesting an inherent conflict between belief and reason.
Many universities are timid about courses that touch even tangentially on politics or look at religion from a non-devotional standpoint. Pervez Hoodbhoy, a renowned Pakistani nuclear scientist, introduced a course on science and world affairs, including Islam’s relationship with science, at the Lahore University of Management Sciences, one of the country’s most progressive universities. Students were keen, but Mr Hoodbhoy’s contract was not renewed when it ran out in December; for no proper reason, he says. (The university insists that the decision had nothing to do with the course content.)
But look more closely and two things are clear. A Muslim scientific awakening is under way. And the roots of scientific backwardness lie not with religious leaders, but with secular rulers, who are as stingy with cash as they are lavish with controls over independent thought.
The long view
The caricature of Islam’s endemic backwardness is easily dispelled. Between the eighth and the 13th centuries, while Europe stumbled through the dark ages, science thrived in Muslim lands. The Abbasid caliphs showered money on learning. The 11th century “Canon of Medicine” by Avicenna (pictured, with modern equipment he would have relished) was a standard medical text in Europe for hundreds of years. In the ninth century Muhammad al-Khwarizmi laid down the principles of algebra, a word derived from the name of his book, “Kitab al-Jabr”. Al-Hasan Ibn al-Haytham transformed the study of light and optics. Abu Raihan al-Biruni, a Persian, calculated the earth’s circumference to within 1%. And Muslim scholars did much to preserve the intellectual heritage of ancient Greece; centuries later it helped spark Europe’s scientific revolution.
Not only were science and Islam compatible, but religion could even spur scientific innovation. Accurately calculating the beginning of Ramadan (determined by the sighting of the new moon) motivated astronomers. The Hadith (the sayings of Muhammad) exhort believers to seek knowledge, “even as far as China”.
These scholars’ achievements are increasingly celebrated. Tens of thousands flocked to “1001 Inventions”, a touring exhibition about the golden age of Islamic science, in the Qatari capital, Doha, in the autumn. More importantly, however, rulers are realising the economic value of scientific research and have started to splurge accordingly. Saudi Arabia’s King Abdullah University of Science and Technology, which opened in 2009, has a $20 billion endowment that even rich American universities would envy.
Foreigners are already on their way there. Jean Fréchet, who heads research, is a French chemist tipped to win a Nobel prize. The Saudi newcomer boasts research collaborations with the universities of Oxford and Cambridge, and with Imperial College, London. The rulers of neighbouring Qatar are bumping up research spending from 0.8% to a planned 2.8% of GDP: depending on growth, that could reach $5 billion a year. Research spending in Turkey increased by over 10% each year between 2005 and 2010, by which year its cash outlays were twice Norway’s.
The tide of money is bearing a fleet of results. In the 2000 to 2009 period Turkey’s output of scientific papers rose from barely 5,000 to 22,000; with less cash, Iran’s went up 1,300, to nearly 15,000. Quantity does not imply quality, but the papers are getting better, too. Scientific journals, and not just the few based in the Islamic world, are citing these papers more frequently. A study in 2011 by Thomson Reuters, an information firm, shows that in the early 1990s other publishers cited scientific papers from Egypt, Iran, Jordan, Saudi Arabia and Turkey (the most prolific Muslim countries) four times less often than the global average. By 2009 it was only half as often. In the category of best-regarded mathematics papers, Iran now performs well above average, with 1.7% of its papers among the most-cited 1%, with Egypt and Saudi Arabia also doing well. Turkey scores highly on engineering.
Science and technology-related subjects, with their clear practical benefits, do best. Engineering dominates, with agricultural sciences not far behind. Medicine and chemistry are also popular. Value for money matters. Fazeel Mehmood Khan, who recently returned to Pakistan after doing a PhD in Germany on astrophysics and now works at the Government College University in Lahore, was told by his university’s vice-chancellor to stop chasing wild ideas (black holes, in his case) and do something useful.
Science is even crossing the region’s deepest divide. In 2000 SESAME, an international physics laboratory with the Middle East’s first particle accelerator, was set up in Jordan. It is modelled on CERN, Europe’s particle-physics laboratory, which was created to bring together scientists from wartime foes. At SESAME Israeli boffins work with colleagues from places such as Iran and the Palestinian territories.
By the book
Science of the kind practised at SESAME throws up few challenges to Muslim doctrine (and in many cases is so abstruse that religious censors would struggle to understand it). But biology—especially with an evolutionary angle—is different. Many Muslims are troubled by the notion that humans share a common ancestor with apes. Research published in 2008 by Salman Hameed of Hampshire College in Massachusetts, a Pakistani astronomer who now studies Muslim attitudes to science, found that fewer than 20% in Indonesia, Malaysia or Pakistan believed in Darwin’s theories. In Egypt it was just 8%.
Yasir Qadhi, an American chemical engineer turned cleric (who has studied in both the United States and Saudi Arabia), wrestled with this issue at a London conference on Islam and evolution this month. He had no objection to applying evolutionary theory to other lifeforms. But he insisted that Adam and Eve did not have parents and did not evolve from other species. Any alternative argument is “scripturally indefensible,” he said. Some, especially in the diaspora, conflate human evolution with atheism: rejecting it becomes a defining part of being a Muslim. (Some Christians take a similar approach to the Bible.)
Though such disbelief may be couched in religious terms, culture and politics play a bigger role, says Mr Hameed. Poor school education in many countries leaves minds open to misapprehension. A growing Islamic creationist movement is at work too. A controversial Turkish preacher who goes by the name of Harun Yahya is in the forefront. His website spews pamphlets and books decrying Darwin. Unlike his American counterparts, however, he concedes that the universe is billions of years old (not 6,000 years).
But the barrier is not insuperable. Plenty of Muslim biologists have managed to reconcile their faith and their work. Fatimah Jackson, a biological anthropologist who converted to Islam, quotes Theodosius Dobzhansky, one of the founders of genetics, saying that “nothing in biology makes sense except in the light of evolution”. Science describes how things change; Islam, in a larger sense, explains why, she says.
Others take a similar line. “The Koran is not a science textbook,” says Rana Dajani, a Jordanian molecular biologist. “It provides people with guidelines as to how they should live their lives.” Interpretations of it, she argues, can evolve with new scientific discoveries. Koranic verses about the creation of man, for example, can now be read as providing support for evolution.
Other parts of the life sciences, often tricky for Christians, have proved unproblematic for Muslims. In America researchers wanting to use embryonic stem cells (which, as their name suggests, must be taken from human embryos, usually spares left over from fertility treatments) have had to battle pro-life Christian conservatives and a federal ban on funding for their field. But according to Islam, the soul does not enter the fetus until between 40 and 120 days after conception—so scientists at the Royan Institute in Iran are able to carry out stem-cell research without attracting censure.
But the kind of freedom that science demands is still rare in the Muslim world. With the rise of political Islam, including dogmatic Salafists who espouse a radical version of Islam, in such important countries as Egypt, some fear that it could be eroded further still. Others, however, remain hopeful. Muhammad Morsi, Egypt’s president, is a former professor of engineering at Zagazig University, near Cairo. He has a PhD in materials science from the University of Southern California (his dissertation was entitled “High-Temperature Electrical Conductivity and Defect Structure of Donor-Doped Al2O{-3}”). He has promised that his government will spend more on research.
Released from the restrictive control of the former regimes, scientists in Arab countries see a chance for progress. Scientists in Tunisia say they are already seeing promising reforms in the way university posts are filled. People are being elected, rather than appointed by the regime. The political storms shaking the Middle East could promote not only democracy, but revive scientific freethinking, too.
Source: http://iranian.com/posts/view/post/6265